NEW DELHI – Ada sesuatu yang menarik ketika makanan khas sebuah negara justru dibawa dari negeri lain untuk diperkenalkan kembali di tanah asalnya. Bukan sekadar soal makanan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah cita rasa mampu menyeberangi batas negara dan menemukan tempatnya di lidah siapa pun.
Hal itulah yang dialami Sitara Bali ketika berkesempatan mengikuti ajang South Asia’s Leading Travel Show (SATTE) di India, 8–10 Januari 2020 lalu.
Selama tiga hari, India Expo Mart, New Delhi, menjadi ruang pertemuan bagi pelaku industri pariwisata dari berbagai negara. Di tengah geliat industri tersebut, Sitara Bali hadir membawa sesuatu yang dekat dengan identitas India: masakan khas negeri Bollywood.
Bagi Sitara Bali, kesempatan ini menjadi pengalaman tersendiri. Restoran yang berbasis di Bali tersebut justru membawa masakan India dari Indonesia ke negara asalnya.
Mungkin terdengar seperti sebuah perjalanan yang berputar. Namun, di situlah daya tariknya. Cita rasa India yang selama ini dinikmati wisatawan di Bali diperkenalkan kembali kepada masyarakat dan profesional pariwisata India.
Ada harapan sederhana di baliknya: membuat wisatawan India yang berkunjung ke Bali dapat menemukan makanan yang terasa akrab, bahkan seperti menikmati hidangan di rumah sendiri.

Ketika Bali Membawa India Pulang
Masakan India telah lama dikenal dengan karakter rasanya yang kuat. Rempah-rempah, aroma khas, serta beragam teknik pengolahan menjadikannya salah satu kekayaan kuliner yang mudah dikenali.
Sitara Bali mencoba menghadirkan pengalaman tersebut dari Pulau Dewata.
Mengikuti SATTE menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan keberadaan restoran dan sajian India di Bali kepada pasar India. Kehadiran di acara tersebut sekaligus membuka kesempatan untuk bertemu dengan para profesional yang bergerak di bidang pariwisata.
SATTE sendiri mempertemukan ribuan pelaku industri. Pada penyelenggaraan yang diikuti Sitara Bali, tercatat sekitar 1.050 peserta pameran dan lebih dari 30.000 profesional pariwisata hadir.
Di tengah keramaian itu, Sitara Bali menempati Indonesia Pavilion, Hall 9, booth A30 #34.
Tiga hari pameran tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan produk, tetapi juga ruang untuk melihat bagaimana industri pariwisata berkembang. Relasi bisnis baru, tren perjalanan, serta peluang dan tantangan industri pariwisata India menjadi bagian dari pembahasan selama acara.
Bagi Sitara Bali, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru sekaligus kesempatan untuk memperluas jaringan.
Dari Bali untuk Lidah Dunia
Ada ironi kecil yang justru terasa menarik dari perjalanan Sitara Bali ke New Delhi. Makanan India yang selama ini diracik dan disajikan di Bali harus menempuh perjalanan jauh untuk diperkenalkan kepada orang India.
Namun, makanan memang memiliki cara sendiri untuk mempertemukan manusia.
Sebuah hidangan dapat menjadi pengingat akan rumah, budaya, dan kenangan. Bagi wisatawan India yang datang ke Bali, menemukan makanan dengan cita rasa yang familiar bisa menjadi bagian dari kenyamanan selama berada jauh dari negara asal.
Di sisi lain, bagi Sitara Bali, membawa hidangan tersebut ke India merupakan kesempatan untuk menunjukkan bahwa cita rasa India dapat diterima dan dinikmati di luar negeri.
SATTE pun akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan bisnis. Ada cerita tentang kuliner yang bergerak melintasi batas geografis—dari India, diolah dan diperkenalkan di Bali, lalu kembali hadir di tanah asalnya.
Dari Pulau Dewata, Sitara Bali membawa harapan sederhana: semoga cita rasa yang dihadirkan dapat dikenal lebih luas dan menemukan lebih banyak lidah untuk menikmatinya.
Sebab, pada akhirnya, makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Ia juga bercerita tentang perjalanan, identitas, dan cara sebuah budaya menemukan tempat di belahan dunia lain.
