Valentine’s Day biasanya identik dengan bunga, cokelat, makan malam romantis, atau waktu yang dihabiskan bersama orang terkasih. Namun, di Bali, makna hari kasih sayang itu hadir dalam bentuk yang berbeda.
Bukan sepasang kekasih yang menjadi pusat perhatian, melainkan para lansia di Panti Jompo Wana Seraya. Pada momen Valentine’s Day, Sitara Bali datang membawa semangat berbagi dan kepedulian kepada para penghuni panti.
Kunjungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan bakti sosial. Bagi Sitara Bali, Valentine’s Day menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa kasih sayang tidak memiliki batas. Ia dapat diberikan kepada siapa saja, termasuk mereka yang mungkin jarang mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya.
Di tengah keseharian para penghuni panti, kehadiran orang-orang dari luar menjadi sebuah bentuk perhatian tersendiri. Sapaan, pertemuan, dan kepedulian sederhana dapat menjadi berarti ketika diberikan dengan ketulusan.
Sitara Bali, yang selama ini dikenal sebagai usaha yang bergerak di bidang kuliner dan pelayanan, mencoba membawa semangat yang sama ke luar aktivitas bisnisnya. Melalui kunjungan ke Wana Seraya, perhatian tidak hanya diberikan kepada para lansia, tetapi juga kepada staf yang sehari-hari mendampingi mereka.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Ada saat ketika seseorang membutuhkan orang lain, dan ada pula saat ketika kita dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain.
Valentine’s Day pun akhirnya tidak lagi sekadar tentang merayakan hubungan romantis. Hari kasih sayang dapat menjadi alasan sederhana untuk berhenti sejenak, melihat orang-orang di sekitar, lalu memberikan perhatian kepada mereka.
Sebab, kebahagiaan terkadang tidak perlu dicari terlalu jauh. Ia bisa diciptakan melalui hal-hal sederhana: sebuah kunjungan, kepedulian, atau waktu yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Dari Wana Seraya, Sitara Bali mencoba menyampaikan pesan sederhana: kasih sayang bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dibagikan.
